A.    PENDAHULUAN

Indonesia sebagai negara yang kaya akan adat-istiadat sudah barang tentu hasil budaya yang sifatnya kebendaan pun amat beragam jenisnya. Adat-istiadat yang terlahir dari banyaknya suku bangsa yang tersebar di seluruh bumi persada, dalam banyak hal memiliki kesamaan ciri maupun pencitraan. Kesamaan tersebut dapat dilihat dalam berbagai hal, di antaranya adalah kesamaan bentuk, kegunaan, dann teknik penggarapan yang sudah memiliki kebiasaan.[1] Pada dasarnya hasil kebendaan tersebut merupakan proses kerja yang turun-temurun, merupakan kewajaran jika hasil kebendaan yang sangat beragam bentuk dan jenisnya itu merupakan hasil kerja kolektif yang sarat akan nilai-nilai ketradisian. Pola-pola seperti itu menuntut masyarakatnya untuk senantiasa mentransformasikan nilai-nilai yang berlaku kepada generasi berikutnya.

Keris lahir sebagai karya budaya yang hingga saat ini tetap eksis di lingkungan masyarakatnya (dalam hal ini adalah masyarakat Jawa). Proses terbentuknya pun tak lepas dari nilai-nilai yang telah berkembang secara turun-temurun dan dalam jangka waktu yang amat panjang. Budaya keris yang berkembang di masyarakat kita telah menunjukkan ketangguhannya dalam melewati masa-masa transisi, yang pada intinya peralihan zaman itu mampu mengantarkan keris bukan hanya sebagai hasil budi daya yang bersifat kebendaan, tetapi keris juga sarat akan nilai-nilai tanbenda (intangible).

Kehadiran keris berlangsung secara berkesinambungan dari masa ke masa secara mentradisi. Keris sebagai salah satu hasil budaya adiluhung (klasik yang mampu menembus zaman bahkan lebih lanjut menjadi tolok ukur tingkat pencapaian karya keris pada masa-masa berikutnya. Jika ditilik dari kehadiran keris yang mampu menembus periode zaman dalam rentang waktu yang berkelanjutan, dipastikan bahwa perwujudannya dilandasi oleh pemikiran yang mendalam dan perancangan yang mantap.

Terdapat salah satu fungsi keris yang menarik untuk dikaji, yaitu keris sebagai sebuah karya seni. Keris sebagai salah satu karya budaya bendawi tentunya tidak meninggalkan nilai-nilai keindahan. Empu bukan hanya ahli tempa saja, melainkan juga ahli dalam olah rasa (artistik). Keris yang tampil di tengah-tengah masyarakat pendukungnya merupakan hasil kecakapan yang dimiliki oleh nenek moyang kita. Keris menunjukkan dirinya sebagai salah satu dari sekian banyak keragaman budaya yang bersumber dari kejeniusan masyarakatnya (local genius)

Keris sebagai sebuah benda budaya tidak bisa dipisahkan dari fungsi atau perannya di masyarakat yang setidaknya ada sembilan fungsi, yaitu: 1) Spiritual-religius, keris pada awalnya merupakan sarana sesaji; 2) Psikologis, keris memiliki motivasi yang mempengaruhi perilaku; 3) Politik, keris memiliki peran dalam percaturan politik kerajaan-kerajaan di Nusantara; 4) Status sosial, keris memiliki kedudukan status personal dalam masyarakat; 5) Media komunikasi, keris mampu membawa muatan pesan yang yang dapat ditangkap isinya dalam sistem budaya masyarakatnya; 6) Magis, keris dipercaya memiliki kekuatan magis; 7) Karya seni, keris menjadi medim ekspresi keindahan; 8) Komoditas ekonomi, keris menjadi barang produksi dan diperjual-belikan; 9) Pelengkap busana, keris merupakan bagian dari asesoris busana tradisi.[2]

Bangsa Indonesia dalam pergaulannya dengan bangsa lain, dituntut untuk memiliki wajah atau coraknya sendiri. Justru kekayaan budaya inilah faktor keberuntungan masyarakat Nusantara yang tidak dimiliki oleh bangsa lainnya. Keragaman budaya yang tersebar di berbagai wilayah nusantara secara langsung telah menjadi identitas bangsa. Identitas bangsa Indonesia terbentuk karena keragaman budayanya bukan keseragaman budayanya. Keris sebagai salah satu dari sekian banyak hasil kebudayaan yang terbentuk dari sistem gagasan, tindakan, dan karya manusia yang menunjuk pada paradigma kebudayaan yang merupakan lahan bagi tumbuhnya kepribadian dan identitas bangsa (citra bangsa).

Keris sebagai hasil kebudayaan yang bersumber dari local genius masyarakat Indonesia memiliki ragam serta keindahan yang perlu dikenali, di samping perlu pula mengkaji perannya sebagai identitas bangsa. Bersumber dari sejumlah hal yang telah disebutkan di atas, maka dapat ditarik permasalahan berkait bentuk keindahan visual keris terkait dengan bilah dan sarung keris secara umum. Selain juga keris sebagai wujud budaya tangible dan intangible mampu menancapkan perannya sebagai identitas bangsa Indonesia.

 

  1. PEMBAHASAN

1. Bentuk Visual Keris Terkait Bilah dan Sarung Keris.

Sebuah ungkapan yang tidak asing bagi orang Jawa, yaitu: “Curiga manjing warangka”, yang arti harafiahnya adalah keris yang masuk ke dalam sarungnya (warangka) atau lebih jelasnya menyatunya bilah keris dengan sarung-nya. Maksud ungkapan tersebut adalah bersatunya jiwa dan raga atau bersatunya manusia dengan Khaliknya; kawula dan gusti yang saling terikat tak terpisahkan. Tidak ada keris tanpa sarung dan tidak ada sarung keris yang tak berpenghuni[3]. Keris tanpa sarung-nya  bisa dikatakan bahwa keris tersebut kurang baik bahkan buruk, atau mengindikasikan bahwa keris tersebut belum selesai (misproduct)[4]. Guna mengkaji tentang bentuk visual keris ini, bahasan dipilah menjadi dua. Yang pertama membahas bilah keris dan yang kedua membahas mengenai sarung-nya.

a. Bilah Keris

Keris berdasarkan jenis bilahnya dibedakan menjadi dua, yaitu: keris dengan bilah lurus dan luk. Bentuk keris yang lurus (Jawa: keris leres) dan meruncing ke atas,  akan memperlihatkan adanya kesatuan yang ajeg, perubahan ukuran dari besar ke kecil dari pangkal hingga ke ujung keris terjadi secara terkendali atau mapan (ajeg). Dikaitkan dengan makna perlambangan bentuk, Harsrinuksmo mengatakan bahwa keris lurus melambangkan stabilitas dan kemapanan kepribadian serta keteguhan (iman), selain pula lambang-lambang tauhid[5]. Artinya, manifestasi nilai-nilai ketuhanan dapat dilihat lewat bentuk bilah keris yang lurus menjulang ke atas dan ujungnya meruncing.

Harsrinuksmo menambahkan bahwa makna keris luk itu didasarkan jumlah luk-nya. Keris luk tiga melambangkan permohonan agar tercapai sesuatu atau cita-cita tertentu, baik cita-cita keduniawian maupun cita-cita kerohanian. Orang Jawa sering menyebutnya “Sae kagem ingkang kagungan gegayuhan”, baik untuk orang yang sedang mengejar cita-cita. Keris luk lima melambangkan permohonan agar pemiliknya berkemampuan lancar berbicara, dipercaya oleh orang yang diajak berbicara. Keris luk tujuh melambangkan permohonan agar pemiliknya memiliki wibawa dalam memberikan teguran dan perintah. Keris luk sembilan melambangkan permohonan agar pemiliknya memiliki wibawa besar, memiliki kharisma. Keris luk sebelas melambangkan pemiliknya yang memiliki ambisi besar dalam mengejar kemajuan tingkat sosial tertentu. Keris luk tiga belas melambangkan permohonan agar pemiliknya sanggup menjaga stabilitas, bisa mempertahankan apa yang sudah dimilikinya

Keris yang memakai luk melambangkan ambisi, kewibawaan dan perjuangan.4 Perjuangan merupakan bagian dari perjalanan hidup dan dalam perjuangan hidup kemungkinan memerlukan perjalan yang berliku-liku. Bentuk keris luk yang meliuk-liuk di samping mencerminkan perubahan ukuran yang mengecil dari pangkal ke ujungnya; memperlihatkan kedinamisannya, tidak kaku, namun tetap menunjukkan kekuatan (intensity) sehingga memunculkan karakter senjata tersebut. Pembuat keris atau Empu dalam menuangkan ide selalu terkait dengan rasa (simbol perasaan) yang tertransformasikan lewat keris selalu mempengaruhi pemiliknya secara psikologis, sehingga kesan yang ditimbulkan jika dilihat dari bentuknya memperlihatkan kekokohan, kegigihan, wibawa, dan pantang menyerah.

Selain jumlah luk, masing-masing keris selalu mempunyai kelengkapan bentuk yang terdiri atas bagian-bagian kecil. Kelengkapan bentuk ini disebut ricikan keris. Bentuk keris tertentu dengan kelengkapan ricikan tertentu, menentukan nama dhapur keris, dan nama-nama dhapur harus sesuai dengan kelengkapan ricikan serta jumlah luk-nya, harus memiliki bentuk yang standar (pakem dhapur keris)5. Bentuk sebuah keris memiliki standar, sehingga dalam proses perwujudannya senantiasa mengacu pada aturan standar bentuk yang sudah ada. Begitu pula dengan menentukan jumlah luk sebuah keris harus didasar pada standar tertentu, yaitu jumlah luk keris yang selalu ganjil.

Jumlah luk dalam keris paling banyak adalah tiga belas. Keris yang jumlah luk/kelokan lebih dari tiga belas tergolong keris kreasi baru. Keris yang demikian lazim disebut dengan keris kalawija.6 Sebagian ahli keris mengatakan bahwa jumlah luk paling sedikit tiga, tetapi ada yang mengatakan bahwa ada juga keris dengan luk satu.

Pada permukaan bilah keris, umumnya terdapat bentuk motif gambaran (Jawa: sekar atau sekaran). Orang biasa menyebutnya dengan istilah pamor.7 Pamor biasanya membentuk pola dan texture yang ditimbulkan karena teknik pembuatannya. Bilah keris dibuat dengan menempa dua atau tiga jenis logam menjadi satu, yaitu: besi, baja, dan pamor yang terbuat dari batu meteor atau nikel, dengan jalan menempanya setelah bahan itu ditumpuk seperti kue lapis. Artinya, dalam penempaan itu logam-logam dipanasi tidak sampai luluh menjadi satu (alloy) dan tidak lagi berbentuk lapisan-lapisan8. Logam tersebut ditempa memanjang setelah itu dikerat (tidak sampai putus) dan dilipat untuk kemudian ditempa lagi, dan begitu seterusnya sampai pada jumlah lipatan yang diinginkan. Keris yang tergolong sedang biasanya membutuhkan kurang lebih  60 kali lipatan, dan untuk keris yang istimewa seperti keris Tangguh Majapahit atau Sedayu bisa mencapai ribuan kali lipatan (Tangguh Majapahit 2048 lipatan dan Tangguh Sedayu 4096 lipatan).9 Melalui penempaan, pelipatan, pemotongan, dan pengikiran pada bagian tertentu akan muncul pola-pola yang unik. Ketiga logam yang dipersatukan dengan jalan ditempa itu tidak sama, besi berwarna hitam kelam, baja hitam keabu-abuan, dan pamor (nikel) berwarna putih keperakan.

Pamor yang baik adalah di tengah (ora nabrak: Jawa). Artinya pamor tidak sampai melampaui kedua sisi samping bilah keris.10 Penempatan pamor yang baik harus seimbang. Pamor keris bisa dikatakan memiliki pola abstrak yang ditimbulkan karena munculnya guratan-guratan garis acak (pamor tiban). Keragaman guratan pamor menunjuk­kan kerumitan (complexity), namun masih menunjukkan kesatuan (unity) antar-berbagai macam guratan tersebut. Pamor dengan jenis tertentu kadang-kadang memberikan kesan seram atau angker bagi yang melihatnya. Seorang empu dalam membuat keris senantiasa mencurahkan segenap kemampuan (tempa, rasa estetik) terhadap keris buatannya, sehingga keris yang dihasilkan nantinya diharapkan memiliki kkarakter (intensity). Pada prinsipnya sebuah karya seni mencerminkan ekspresi seniman, atau oleh S. Sudjojono disebut dengan “jiwa ketok”, keris sebagai sebuah karya seni juga mencerminkan atau perasaan sang Empu yang terwujud lewat karyanya yang mampu ditangkap oleh yang melihatnya.

Ahli keris mengatakan, pada dasarnya bentuk motif pamor yang tergambarkan pada sebilah keris adalah perlambang, isi, tuah atau manfaat sebilah keris. Pamor seakan merupakan petunjuk sang empu pada pemiliknya, bentuk pamor melambangkan suatu harapan, suatu permohonan. Harsrinuksmo menyimpulkan tentang bentuk pamor terkait dengan simbol/perlambangan. Pada dasarnya ada tiga macam perlambangan yang bisa terbaca pada bentuk motif pamor. Pertama, bentuk motif pamor yang berupa garis atau garis-garis lurus sejajar, melambangkan suatu penolakan atau penangkal terhadap segala sesuatu yang buruk, misalnya bahaya, musibah, fitnah, penyakit, guna-guna. Kedua, bentuk motif pamor yang berupa bulatan, lingkaran, garis lengkung, atau garis-garis menyerupai air kental mengalir berkelok-kelok, melambangkan harapan akan cita-cita keduniawian, misalnya rezeki, kekayaan, ketentraman, derajat sosial. Ketiga, bentuk motif pamor yang berupa sudut patah melambangkan daya tahan, kekebalan, kadigdayan.

Pamor dibagi menjadi dua golongan menurut proses pembuatannya, yaitu pamor mlumah dan pamor miring. Yang tergolong pamor mlumah adalah pamor udan mas, beras wutah, pulo tirto, ngulit semangka, tambul, dan lain-lain. Sedangkan yang tergolong pamor miring antara lain Adeg, Ron Genduru, Ri Wader, dan Blarak Ngirid. Pembagian jenis pamor di bagi menjadi dua yaitu pamor rekan dan pamor tiban. Pamor rekan adalah jenis pamor yang motifnya dirancang atau direka lebih dahulu oleh sang empu, misalnya Ron Genduru, Blarak Ngirid, Watu Lapak, Ujung Gunung, Wangkon, Adeg. Sedangkan pamor tiban misalnya Wos Wutah, Pulo Tirto, Sumsum Buron, Nunggaksemi, dan Ngulit Semangka11.

Baik bilah keris lurus maupun keris luk selalu dibagi menjadi 3 bagian besar, yaitu: 1) Pucukan keris, bilah keris yang paling ujung, 2) Awak-awak keris, bagian tengah atau badan keris, 3) Soran keris, bagian keris yang paling bawah yang berhubungan langsung dengan ganja.12 Pembagian menjadi tiga ini tidak dibatasi secara tegas. Pembagian tersebut amat lazim di Indonesia, seperti misalnya pada Candi, sering dilambangkan sebagai penghubung antara dunia bawah, dunia tengah, dan dunia atas, yaitu kaki candi (Bhurloka), badan candi (Bhuwarloka), dan ujung candi (Swarloka).13 Sor-soran itulah sebagian besar ricikan bilah atau detail bagian keris terdapat, misalnya kembang kacang, gandhik, pudhak sategal, lambe gajah, greneng atau rebyung, pejetan dan sraweyan. Bentuk-bentuk ricikan tersebut mencerminkan keragaman (variety) ditandai perbedaan bentuk masing-masing ricikan, kesatuan bentuk didapat dari masing-masing ricikan yang meskipun berbeda tetapi masih tetap terasa menyatu.

b. Sarung Keris

Membicarakan tentang sarung keris juga terkait dengan busana keris, yaitu ukiran atau dhedher/hulu, mendhak, warangka, dan gambar yang dibungkus dengan pendhok. Masing-masing bagian tersebut mempunyai rincian lagi, misalnya pada ukiran dhedher/hulu terdapat (sebutan di Jawa) patra nginggil, patra ngandhap, bathuk, gigir, bungkul, dan lain-lain. Adapun pada warangka terdapat antara lain: angkup, bapangan, pipi, janggut, lata, dan gandhek atau ri pandhan.14

Bentuk hulu keris sangat beragam. Berbagai daerah di Indonesia sejak zaman dahulu mempunyai bentuk-bentuk (model) dan gaya masing-masing yang khas, yang diselaraskan dengan bentuk berbagai sarung yang khas pula. Ada hulu dalam gaya khas Bali, Madura, Surakarta, Yogyakarta, Palembang, Melayu, atau Bugis. Ada juga bentuk-bentuk khusus dan juga gaya-gaya khusus yang merupakan improvisasi bentuk-bentuk standar.15

Kebanyakan bentuk hulu adalah bentuk yang distandarkan oleh masing-masing keraton. Daerah Surakarta, Yogyakarta disebut dengan pakem dhapur Ukiran, yang dibuat berdasarkan sebuah model yang disebut eblak. Sedangkan yang dibuat dengan tidak berdasarkan pakem dhapur ukiran oleh pembuatnya (Mranggi) selalu disesuaikan dengan bentuk tubuh dan sifat-sifat pemesan atau calon pemakainya. Misalnya seseorang yang bertubuh kecil dan lemah tidak akan dibuatkan bentuk ukiran yang besar, gagah, dan kasar. Demikian pula sebaliknya. Perbedaan bentuk ini disebut Wanda. Wanda inilah yang membedakan bentuk tertentu menjadi gaya. Misalnya bentuk Tunggak Semi gaya Surakarta, Wanda Mangkuratan.16 Pada masa sebelum zaman kemerdekaan, semua hulu dibuat menurut pakem atau improvisai pakem. Terkadang bisa kita temukan sebuah masterpiece, yaitu sebuah karya seni original berupa improvisasi atau abstraksi yang dibuat dengan penuh penghayatan dan dibuat satu saja.17 Zaman dahulu, hulu keris menunjukkan status sosial pemakainya. Hulu keris selalu berwujud makhluk hidup yang bertugas untuk menjaga keris tersebut, baik dalam bentuk asli yang distilir maupun bentuk abstraksi. Bahkan hulu-hulu bentuk polos yang kita kenal saat ini sebenarnya merupakan tingkat abstraksi yang sangat tinggi dari makhluk-makhluk tertentu.18

Ukiran atau dhedher/hulu Jawa yang abstrak itu cocok sekali dengan warangka-nya yang abstrak juga, baik warangka gayaman (pendek, sederhana) maupun ladrang (panjang dan lebih komplek). Kedua-duanya sama-sama merupakan bentuk yang abstrak. Baik ukiran maupun warangka-nya memiliki bentuk yang amat indah secara intrinsik maupun tanpa hiasan apapun yang menempel kecuali patran kecil yang ada pada ukiran. Bentuk warangka ladrang maupun gayaman merupakan bentuk abstrak yang sangat menarik tanpa menumbuhkan asosiasi pada sesuatu bentuk di alam.19 Warangka gaya Surakarta pada umumnya lebih meriah/komplek, lebih gagah, baik deder maupun warangka-nya, entah warangka ladrang ataupun gayaman. Warangka gayaman dengan wanda gandhon, dengan garis kelemahan yang semakin ke belakang makin menurun dan menjadikan tampak samping gandon ini makin ke belakang makin tebal dengan lengkung belakang yang luwes dan seimbang dengan lengkung depannya. Hal ini menjadikan bentuk abstrak warangka gayaman tersebut harmonis, menyatu dan indah sehingga kekuatan/karakternya pun muncul.

Mendhak adalah perlengkapan hiasan pada sebilah keris. Bentuknya seperti cincin, melingkar pada bagian pangkal pesi sebilah keris. Mendhak terbuat dari logam perak, emas, tembaga, atau kuningan. Seringkali ditambah pula dengan hiasan intan berlian, atau batu mulia lainnya. Oleh karena itu Mendhak dapat dipakai sebagai ukuran status sosial pemakainya karena perbedaan bahan yang dipakai.20 Barang yang kecil ini memiliki pula ricikan yang tidak sedikit, misalnya Tumpang Sari, Meniran Klawang, Ungkat-ungkat, Untu Walang, dan Widheng.21 Artinya, ketentuan membuat keris dengan segenap kelengkapannya itu sudah diatur semuanya, tak terkecuali mendhak. Mendhak yang kecil ini pun memiliki banyak rincian, sehingga mendhak sebagai busana kelengkapan keris tetap mengandung nilai-nilai kompleksitas.

Satu lagi bagian dari sarung keris, yaitu Pendhok. Pendhok adalah lapisan pelindung bagian gandar dari warangka keris. Lapisan ini terbuat dari bahan logam perak, kuningan, tembaga, atau emas. Pendhok dibuat dengan rapi, diberi ukiran lembut dan kadang-kadang diberi hiasan intan berlian atau batu mulia lainnya. Ragam bentuk ukiran yang terdapat pada permukaan pendhok  bermacam-macam bentuk dan namanya. Misalnya: Alas-alasan, Semen, Taman sari, dan lain-lain22. Selain bermanfaat sebagai pelindung gambar, pendhok juga dijadikan ukuran status sosial pemakainya.23 Pendhok yang mewah biasanya terbuat dari emas permata. Pada masa penjajahan dahulu, terdapat pendhok yang diberi warna (Pendhok Kemalo). Warna ini menentukan kedudukan dalam masyarakat keraton.24 Pendhok dibagi menjadi dua berdasarkan bentuknya yaitu Pendhok Bunton dan Pendhok Blewehan atau Blewah. Pendhok Bunton adalah pendhok buntu yang sepenuhnya menutup gandar, berbentuk seperti tabung yang ujungnya mengecil dan tertutup. Sedangkan pendhok Blewehan atau Blewah adalah pendhok yang salah satu sisinya berlubang membujur hampir di seluruh panjangnya dengan maksud untuk mempertontonkan apa yang ada di dalamnya, karena gandar-nya terbuat dari kayu yang memiliki kualitas tinggi.

Pada umumnya pendhok dihias dengan pahatan atau ukir-ukiran yang rumit, lembut dengan motif stilasi dari tumbuh-tumbuhan (semen, lung-lungan), dan ada pula yang disisipi dengan batu mulia atau intan berlian.25 Pendhok seringkali mengkombinasi­kan dua macam logam, seperti Pendhok Slorok, yaitu perak untuk bahan pendhoknya, slorok-nya terbuat dari emas yang berukir tembus (krawangan), sedangkan pendhok yang diberi warna, biasanya menggunakan warna merah, biru, hijau, hitam dengan menggunakan teknik pewarnaan tradisional yang disebut dengan sungging.26 Penggunaan warna-warna tersebut memperlihatkan kesatupaduan yang kompleks ditambah dengan warna emas yang semakin menunjukkan kafakteristiknya (intensity).

2. Visualisasi Keris Sebagai Ciri Khas Indonesia

Undang-undang dasar 1945 pasal 28 ayat 1 yang telah diamandemen berbunyi: “setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan bangsa”. Pada dasarnya pasal ini berbicara mengenai jaminan hak-hak asasi individu, tetapi secara tidak langsung juga memuat penjelasan mengenai perlindungan dan pengembangan kebudayaan, karena pada dasarnya kebudayaan merupakan manifestasi dari perikehidupan manusia terkait dengan perilaku, pola pikir, dan wujud sebagai hasil dari kedua-duanya yang selalu ditempatkan sebagai identitas.27

Keris sebagai hasil dari kebudayaan kebendaan yang hingga saat ini tetap menjadi bagian integral dari masyarakat pendukungnya, sudah selayaknya mendapatkan hak serta jaminan dalam Undang-undang tersebut. Ditegaskan lagi pada Peraturan Pemerintah di dalam Undang-undang No. 5 Tahun 1992 tentang benda cagar budaya yang lebih operasional. Undang-undang tersebut menjelaskan bahwa semua benda budaya yang berumur sekurang-kurangnya 50 tahun wajib dilindungi, khususnya yang memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan secara keseluruhan. Budaya keris yang tumbuh dan berkembang semenjak ribuan tahun hingga saat ini, dipastikan artefak budaya yang berkembang di masa lalu telah mencapai lebih dari 50 tahun, sehingga layak dimasukkan menjadi benda cagar budaya. Lebih penting lagi jika kedudukan keris yang dimaksud sebagai sebuah kesatuan atau kelompok yang memiliki hubungan erat dengan sejarah28.

Pola-pola perwujudan keris merupakan bagian dari semangat pembuatnya. Seni tempa sebagai proses perwujudan keris berbeda dengan seni tempa manapun; seni tempa keris yang menggabungkan tiga jenis bahan yang berbeda (besi, baja, nikel/meteor) menjadi ciri khasnya. Sementara itu, semangat kehidupan masyarakatnya (masyarakat Jawa) pun turut serta dalam proses perwujudan itu. Semangat gotong-royong yang menjadi ciri khas masyarakat Jawa merupakan paktek dalam perwujudan kerukunan29. Semangat gotong-royong dalam rangka hidup rukun telah merasuk ke sendi-sendi masyarakat Jawa, tak terkecuali pada proses pembuatan keris, prakteknya selalu melibatkan beberapa orang yang turut membantu empu dalam proses pengerjaannya. Pada suasana kebersamaan dan kerukunan, perwujudan keris selalu disertai dengan harapan-harapan dalam hal kebaikan. Seorang empu senantiasa memohon kepada Yang Maha Kuasa agar keris buatannya diberkahi, selalu mendatangkan kebaikan menuju ketentraman, ketenangan, serta kerukunan hidup.

Harapan-harapan tersebut tersampaikan lewat bentuk-bentuk simbol yang terdapat pada setiap bagian keris (bilah, pamor, sarung, dan ricikan-ricikan lainnya). Simbol-simbol tersebut merupakan cerminan bentuk-bentuk sugesti alam dalam rangka mewujudkan keselarasan hidup. Keselarasan hidup manusia dengan alam semesta (makro kosmos) dan keselarasan hidup manusia dengan Tuhannya (mikro kosmos), dengan demikian keris merupakan hasil budaya manusia yang kaya akan simbol-simbol. Koentjaraningrat menjelaskan bahwa kemunculan sebuah karya seni disertai pula dengan harapan-harapan, hal ini dimaksudkan untuk mencapai keselarasan hidup manusia sebagai pembuat atau pemilik dengan alam sekitarnya.30 Hal inilah yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia khususnya Jawa.

Teknik tempa yang dipakai berbeda dengan teknik tempa lainnya. Teknik tempa yang dipakai menggunakan seni tempa yang menggabungkan tiga jenis logam sekaligus (besi, baja, dan nikel). Besi dilipat/ditekuk dan di dalamnya diselipkan nikel, dan kemudian dipanasi untuk selanjutnya ditempa, dilipat dan begitu seterusnya. Setelah sampai pada lipatan yang terakhir, untuk selanjutnya baja diselipkan di tengah-tengah lipatan besi dan nikel, dipanasi dan ditempa hingga menjadi bentuk global keris. Teknik tempa semacam ini hanya didapati pada proses pembuatan keris, sehingga menjadi ciri khas tersendiri. Keris merupakan budaya asli Indonesia (Jawa).

Peran keris menjadi amat penting bagi masyarakat pendukungnya bahkan dikatakan menjadi bagian integral dari masyarakatnya. Keris tidak hanya dipandang sebagai sebuah senjata untuk melukai, akan tetapi keris sarat akan nilai-nilai simbolis dan falsafah yang dapat terbaca lewat bentuk visualnya32. Setiap bagian (ricikan) dari keris selalu teridentifikasi sedemikian rupa dan sarat akan muatan simbolis. Bentuk visual keris dengan segenap pemaknaannya, tentunya tidak dapat dipisahkan dengan spirit jiwa empu-nya. Budaya semacam itu hanya terdapat pada budaya ini saja, tidak sama atau tidak berlaku untuk budaya yang sejenis (jenis senjata lainnya). Sehingga keris memiliki kekhasan tersendiri.

Benda ini bisa dikatakan keris jika memiliki bagian-bagian atau bentuk visual yang menjadi patokan untuk pembuatan keris. Mudahnya ciri khas itu terlihat pada bentuk visualnya, yaitu pada bagian bilah dan sarung-nya. Pada umumnya keris sepi hiasan dan indah secara intrinsik, yaitu pada bentuknya yang unik, baik pada bilah-nya maupun pada sarung-nya. Keris hampir merupakan satu-satunya benda ciptaan nenek moyang bangsa Indonesia yang baik bilah maupun sarung-nya tidak tercipta secara simetris, bentuknya amat beragam, bentuk bilahnya amat beragam, semuanya asimetris.

Ketika orang memegang hulu keris, maka akan mendapati posisi yang enak dan lebih sesuai dengan anatomi manusia, karena hulu keris itu tidak tersambung lurus dengan sumbu bilah, tetapi membentuk sudut lancip ke arah sisi depan di mana gandik dan pejetan terdapat. Hal ini mengindikasikan bahwa, keris pada masa lampau telah memperhatikan prinsip-prinsip ergonomi.33 Bentuk keris yang sedemikian rupa tentunya tidak terlepas dari fungsi/perannya. Bentuk visual keris yang lebih menonjolkan nilai keindahan dimaksudkan untuk memiliki fungsi sebagai pelengkap busana atau aksesoris busana. Keris yang berkembang di Nusantara Khususnya Jawa tidak dapat dilepaskan sebagai bagian dari pelengkap/aksesoris busana adat Jawa. Orang yang memakai busana adat Jawa dikatakan lengkap (jangkep) jika mengenakan sebuah keris. Sehingga keris sebagai pelengkap busana adat Jawa menjadi ciri khas masyarakat tersebut.

Adanya keinginan kuat berbagai pihak untuk melestarikan budaya keris sebagai salah satu wujud budaya kebendaan dalam rangka memantapkan identitas bangsa ternyata menumbuhkan hasil juga. Diakuinya keris sebagai warisan budaya tanbenda dunia oleh UNESCO pada tanggal 25 November 2005, sehingga keris tidak hanya sebagai warisan budaya lokal (daerah) tetapi keris telah diakui oleh dunia. Berkaitan dengan adanya peristiwa tersebut, selayaknya sebagai generasi muda/pemilik kebudayaan agar turut serta ikut memiliki dan menjaganya. Keris bukan lagi milik masyarakat Jawa, karena itu sudah saatnya kita tempatkan peran keris sebagai identitas/citra milik bangsa Indonesia di mata dunia.

C. SIMPULAN

Keris berdasarkan jenis bilahnya dibedakan menjadi dua, yaitu: keris dengan bilah lurus dan luk. keris lurus melambangkan stabilitas dan kemapanan kepribadian/keteguhan (iman), dan juga lambang-lambang tauhid. Keris yang memakai luk melambangkan ambisi, kewibawaan dan perjuangan. Pada permukaan bilah keris, umumnya terdapat bentuk motif gambaran. Orang biasa menyebutnya dengan istilah pamor. Pamor biasanya membentuk pola serta texture yang ditimbulkan karena teknik pembuatannya dan karena bersatunya tiga jenis logam yang berbeda (besi, baja, dan nikel). Keragaman garis/guratan pamor menunjukkan kekomplekan (complexity). Bentuk pamor melambangkan suatu harapan atau suatu permohonan. Bentuk hulu keris sangat beragam, berbagai daerah di Indonesia sejak zaman dahulu mempunyai bentuk-bentuk yang khas. Hulu keris menunjukkan status sosial pemakainya. Mendhak adalah perlengkapan hiasan pada sebilah keris. Bentuknya seperti cincin, melingkar pada bagian pangkal resi sebilah keris. Mendhak dapat dipakai sebagai ukuran status sosial pemakainya karena perbedaan bahan yang dipakai. Pendhok adalah lapisan pelindung bagian gandar dari warangka keris. Lapisan ini terbuat dari bahan logam perak, kuningan, tembaga, atau emas.

Keris sebagai hasil dari kebudayaan kebendaan yang hingga saat ini tetap menjadi bagian integral dari masyarakat pendukungnya, sudah selayaknya mendapatkan hak serta jaminan perlindungan dan pengembangan kebudayaan. Dalam rangka mementabkan keberadaan keris sebagai identitas bangsa terkait dengan bentuk visualnya, ada beberapa alasan yang perlu dipahami,yaitu semangat gotong-royong dalam rangka hidup rukun telah merasuk ke sendi-sendi masyarakat Jawa, tak terkecuali pada proses pembuatan keris. Hal inilah yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia khususnya Jawa. Teknik tempa yang digunakan adalah seni tempa yang menggabungkan tiga jenis logam sekaligus (besi, baja, dan nikel). Sehingga seni tempa/teknik tempa keris menjadi ciri khas tersendiri. Ciri khas keris terlihat pada bentuk visualnya, yaitu pada bagian bilah dan sarung-nya. Bentuk visual keris yang lebih menonjolkan nilai keindahan dimaksudkan untuk memiliki fungsi sebagai pelengkap busana/asesoris busana. Sehingga keris sebagai pelengkap busana adat Jawa menjadi ciri khas masyarakat tersebut. Mengingat pada tanggal 25 November 2005 keris telah diakui oleh dunia lewat UNESCO, maka konskuensinya membicarakan keris saat ini tidak hanya menunjuk pada daerah asalnya saja, keris bukan lagi milik masyarakat Jawa, tetapi keris sudah saatnya menempatkan perannya sebagai identitas atau citra bangsa Indonesia di mata dunia.

DAFTAR PUSTAKA

 

Bambang Harsrinuksmo

1993        Tanya Jawab Soal Keris. Jakarta: Grafikatama Jaya.

Bambang Harsrinuksmo, S. Lumintu.

1988         Ensiklopedia Budaya Nasional “Keris dan Senjata Tradisional Indonesia. Jakarta: Cipta Adi Pustaka, PT. Temprint

Basuki Teguh Yuwono

2006         Sembilan Fungsi Keris dalam Masyarakat (Makalah disampaikan dalam Seminar Keris: Taman Mmi Indonesia Indah).

Franz Magnis- Suseno

1996          Etika Jawa “Sebuah Analisa Falsafi Tentang Kebijaksanaan Hidup. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Koentjaraningrat

1971         Manusia darn  kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan

Soegeng Toekio, Guntur, dan Achmad Sjafi’i

2004         Kekriyaan Indonesia.Surakarta: STSI Press

Soedarso Sp.

2004          Tinjauan Keris Dari Sisi Seni Rupa. (Makalah Keris)

 Umar Kayam

1981             Seni, Tradisi, Masyarakat. Jakarta: Sinar Harapan.


[1] Soegeng Toekio, Kekriyaan Indonesia (Surakarta: STSI Press, 2004), hlm. 7

 

[2] Basuki Teguh Yuwono, ”Sembilan Fungsi Keris dalam Masyarakat (Makalah disampaikan dalam Seminar Keris: Taman Mini Indonesia Indah, 2006), hlm. 1

[3] Soedarso Sp, “Tinjauan Keris Dari Sisi Seni Rupa” (Makalah Keris, 2004), hlm. 5

[4] Ibid., hlm. 6

[5] Bambang Harsrinuksmo, Tanya Jawab Soal Keris (Jakarta: Grafikatama Jaya,1993), hlm. 23

4 ibid., hlm. 59

5 Ibid., hlm. 60

6 Orang Jawa menyebutnya “duwung (keris) kalawijan”. Dahulu keris-keris semacam inihanya dimiliki oleh orang-orang yang tidak normal. Keris ini biasa dimiliki orang-orang yang cacat badaniah, bisa pula dimiliki oleh mereka yang menurut istilah sekarang disebut orang “nyentrik”. Jadi, orang yang terlalu pintar, termasuk juga beberapa orang empu, kerisnya juga memiliki luk lebih dari tiga belas.

7 Op cit., Bambang Harsrinuksmo, hlm. 56

8 Op cit., Soedarso Sp, hlm. 6

9 Bambang Harsrinuksmo “Ensiklopedi Keris”, (Jakarta: Grafikatama Jaya,1993), hlm. 39

10 Basuki teguh Yuwono, (dalam wawancara : Mei, 2013)

11 Op cit., Bambang Harsrinuksmo, hlm. 65-66

12 Op cit., Soedarso Sp, hlm. 7

13 Ibid., hlm. 8

14 Ibid., hlm. 9

15 Suhartono Raharjo, Ragam Hulu Keris Sejak Zaman Kerajaan (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2003), hlm. 2

16 Ibid., hlm. 2

17 Ibid., hlm. 5

18 Ibid., hlm. 1

19 Soedarso Sp, hlm. 9

20 Ibid, Bambang Harsrinuksmo, S. Lumintu, hlm. 106

21 Soedarso Sp, hlm. 10

22 Ibid., hlm. 11

23 Ibid., hlm. 13

24 Bambang Harsrinuksmo, S. Lumintu, hlm 1

25 Soedarso Sp, hlm. 11

26 Ibid, hlm. 13

27 Dinas Pariwisata Jakarta Timur, “Perlindungan Keris: Dasar Hukum” (Makalah disampaikan dalam seminar keris: September, 2004), hlm. 1

28 Ibid, hlm. 1

29 Franz Magnis-Suseno, Etika Jawa “Sebuah Analisa Falsafi Tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996), hlm. 50

30 Koentjaranigrat, Kebudayaan Jawa (Jakarta: Balai Pustaka,1994), hlm. 438

32 Basuki Teguh Yuwono, (dalam wawancara: Mei, 2013)

33 Ibid, Soedarso Sp, hlm. 12

Isolation of a mutant arabidopsis plant that lacks n-acetyl glucosaminyl transferase I and is unable to synthesize golgi-modified complex ghostwriter bachelorarbeit tipps n-linked glycans.