Tradisi ornamen dalam budaya Jawa menjadi pengungkapan daya dukung yang sangat kuat dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari nafas bertutur, berkarya, dan beraktualisasi diri. Visualisasi ornamen telah berada dalam ruang sakral keagamaan dan religi asli (agama Jawa), Hindu, Buddha, dan Islam termasuk pula yang teraktualisasikan pada bangunan keraton, masjid, dan makam, harus tampil sempurna dihadapan masyarakatnya[1] Sehingga, ornamen dapat menjadi nafas berkarya masyarakat yang ingin membuat bahan-bahan atau produk setengah jadi menjadi bernilai seni.

Sejauh perkembangan kebudayaan Jawa, khususnya kebudayaan Jawa di Surakarta dan kawasan sekitarnya, Keraton Kasunanan dan Istana Mangkunegaran Surakarta mengemban peran penting sebagai pusat kebudayaan. Istana Mangkunegaran merupakan generasi penerus perjalanan sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa dan menjadi salah satu pusat pelestarian adat yang diwariskan secara turun temurun. Karena itu, keberadaan Istana Mangkunegaran dan Keraton Kasunanan, dinilai sangat penting dalam pendinamisasian kehidupan adat dan kebudayaan yang bersumber pada kosmogoni Jawa. Keberadaan dua kerajaan tersebut, menyebabkan masyarakat Jawa berkiblat atau mencontoh upacara adat dan budaya yang berkembang di dalam tembok Istana maupun Keraton.

Pendhapa Ageng Mangkunegaran dalam kerangka budaya bukan sekadar bangunan fisik yang digunakan untuk tempat pertemuan dan perayaan, melainkan memiliki peran yang lebih luas daripada itu. Meskipun berwujud benda materi, Pendhapa Ageng Mangkunegaran tidak hanya digunakan untuk melakukan peran fisik, tetapi di balik semua itu ada peran psikhis yang bersifat maknawi. Makna eksplisit maupun yang implisit dalam bentuk bangunan serta ornamen yang terdapat dalam Pendhapa Ageng, khususnya singup kumudawati, tentu mengusung makna, pesan, dan peran tertentu. Usungan nilai itulah yang diharapkan mampu menciptakan atau menggerakkan asumsi-asumsi dan keyakinan budaya, yang tidak pelak diharapkan agar keyakinan tersebut mampu menjadi sebuah realitas, sebuah fakta.

Ornamen Kumudawati, dalam perjalanannya hingga sekarang, merupakan salah satu daya tarik kuat pada Pendhapa Ageng Istana Mangkunegaran. Bukan hanya karena ornamen Kumudawati berukuran besar. Salah satu hal yang menarik barangkali karena letaknya yang berada pada singup (langit-langit) pendhapa, sehingga ornamen ini langsung dapat kita lihat ketika memasuki pendhapa. Sungguh merupakan sesuatu yang unik, karena ornamen Kumudawati seperti ini hanya terdapat di Pendhapa Ageng Mangkunegaran; tidak dapat kita temui pada pendhapapendhapa lain. Tata letak dan tata susun ornamen Kumudawati ini pasti juga memiliki maksud tersendiri. Ada serangkaian kandungan ajaran di balik wujud ornamen Kumudawati yang ingin disampaikan sang penggagas, Mangkunegara VII. Karena itu, kumudawati tidak melulu menarik sebagai sebuah fakta benda (artifact), tetapi juga menarik sebagai fakta mental (mentifact) dan fakta sosial (sosiofact). Itulah sebabnya hingga sekarang, wujud ornamen Kumudawati masih dilestarikan oleh penguasa-penguasa Mangkunegaran berikutnya.

Mengacu pada perspektif budaya, maka bentuk dan corak ungkapan kesenian tidak semata-mata untuk pemenuhan keindahannya saja, melainkan juga terkait secara menyeluruh dengan pemenuhan kebutuhan lainnya. Dengan kata lain, ornamen Kumudawati dapat dipandang sebagai salah satu cara pemuasan akan keindahan yang keberadaannya ditentukan oleh aspek-aspek kebudayaan. Bertolak dari pemikiran itu, maka mengkaji ornamen kumudawati sebagai karya seni budaya, pada dasarnya berhadapan dengan tuntutan untuk melihat karya seni itu secara utuh, yang tidak lepas dari keinginan dan ideologi penggagas, yaitu Mangkunegara VII. Oleh karena itu perlu dipertanyakan bagaimana aspek-aspek kebudayaan eksternal memberikan pengaruh terhadap bentuk ornamen Kumudawati dan maknanya dalam konsep pikir Mangkunegara VII. Dalam kerangka khusus,

1.    Bagaimana makna simbolis ornamen Kumudawati berkait dengan tatanan budaya masyarakat Jawa?

2.    Bagaimana nilai-nilai yang terkandung dalam ornamen Kumudawati dan implikasinya bagi masyarakat?

3.    Mengapa Mangkunegara VII memprakarsai pembuatan ornamen Kumudawati pada singup Pendhapa Ageng Mangkunegaran?

  1. A. Latar Belakang Pewujudan Ornamen Kumudawati

K.G.P.A.A. Mangkunegara VII merupakan salah satu tokoh yang cukup berpengaruh dalam perubahan wajah Surakarta di awal abad ke-20. Mangkunegara VII merupakan tokoh yang tumbuh dan dewasa dalam zaman transisi menuju modernisasi, seiring dengan perubahan-perubahan kebijakan kolonial yang sangat menentukan nasib bangsa pribumi. Kondisi zaman seperti ini berpengaruh sekali pada orang-orang yang hidup di masanya. Masa kepemimpinan Mangkunegara VII yang berada pada satu masa dengan Paku Buwana X memang merupakan periode pertumbuhan kebudayaan Barat dalam kehidupan budaya Jawa.

Mangkunegara VII merupakan penguasa Vorstenlanden yang memprakarsai gerakan yang berupaya mempelajari dan mengaktualisasikan kembali kebudayaan Jawa masa lampau dan masa itu, untuk menentukan arah pengembangan budaya di masa yang akan datang seiring berkembang pesatnya budaya Barat.[2] Kontak budaya dengan bangsa pendatang seperti Belanda tidak dapat dihindari. Namun, adanya kontak budaya dengan Barat, tidak serta merta harus merusak budaya Timur seandainya orang Jawa mampu mengolah apa-apa yang datang dari Barat tanpa kehilangan identitas budaya Timur.

Hal inilah yang dilakukan oleh Mangkunegara VII dalam karya budayanya, yaitu menghidupkan kembali budaya Jawa dengan mengharmonisasikan budaya Barat yang “terlanjur” ber-kembang di Surakarta. Atas dasar itu, tidak mengherankan apabila Mangkunegara VII ingin mewujudkan kembali keagungan budaya masa lampau dalam kemasan masa kini, sebagai upaya untuk memapankan kembali kebudayaan Jawa. Salah satu karya budaya Jawa kuna yang dihadirkan kembali dalam kemasan masa kini adalah ornamen Kumudawati yang terdapat pada singup Pendhapa Ageng Mangkunegaran.

Ornamen Kumudawati sengaja dibuat untuk menampilkan karya seni bernilai tinggi dengan maksud sebagai bentuk penegasan kepemimpinannya di antara raja-raja vorstenlanden. Sebab, sebagai salah satu raja vorstenlanden, salah satu usaha untuk menjaga kelangsungan sifat gung binathara adalah dengan menciptakan kebudayaan yang bernilai tinggi.[3] Selain itu, juga dilandasi rasa persaingan yang tidak pernah berhenti antara dua “raja” Surakarta, yaitu Mangkunegara VII dan Paku Buwana X yang pemerintahannya berada pada satu masa. Bermula dari penguasaan tanah hingga penciptaan karya seni dan budaya.[4]

B. Tata Letak Ornamen Kumudawati

Pendhapa Ageng Mangkunegaran dibangun dengan sistem konstruksi terpadu, yaitu gabungan antara konstruksi tradisional dan modern. Konstruksi tradisional ditunjukkan melalui bentuk bangunan joglo, yang susunannya dari atas ke bawah terdiri atas bagian brunjung, pananggap, panitih, dan paningrat, yang menggambarkan keagungan arsitektur tradisional. Konstruksi modern diwakili oleh sistem kerangka logam pada kuncungan atau bangsal tosan dan emper.

Empat buah tiang utama atau saka guru menyangga bagian utama joglo, kokoh berdiri karena berasal dari balok-balok kayu jati berukuran besar dan mempunyai bidang lebar berukuran 0,40 m. Keempat ujung atasnya  dipersatukan dengan balok datar sehingga membentuk bidang segi empat langit-langit atau singup. Pada tahun 1937 Mangkunegara VII memberi ornamen bermotif simbolis magis dan religius bernilai filosofis pada singup tersebut. Ornamen tersebut diberi nama Kumudawati, yang sarat dengan kedalaman makna dan ajaran filsafat Jawa. Ajaran filsafat Jawa itu diaplikasikan pada ornamen Kumudawati pada singup Pendhapa Ageng tersebut, dibuat agar orang-orang tidak hanya menjadikannya sebagai tontonan, tapi juga tatanan dan tuntunan sebagai orang Jawa.

Ornamen Kumudawati yang berada pada bagian atas dalam kaitannya dengan Triloka atau Tribhuana, yaitu paham adanya tiga duni atau tiga alam, dunia bawah tempat orang yang jalan hidupnya tidak benar (dur angkara murka), dunia tengah tempat manusia hidup dengan badan wadag atau jasmaniah, serta dunia atas tempat pada dewa dan para suci.[5] Sehingga penempatan ornamen Kumudawati mengarah pada alam kedewaan atau alam ketuhanan. Ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya merupakan ajaran menuju kepada Tuhan atau bagaimana menjadi ”manusia suci.”

C. Bentuk dan Makna Simbol Ornamen Kumudawati

Rumah tradisional Jawa yang terwujud pada Pendhapa Ageng Mangkunegaran merupakan salah satu dari berbagai produk arsitektur atau seni bangun. Sebagai rumah tradisional Jawa, Pendhapa Ageng Mangkunegaran tidak hanya dibangun  karena tuntutan fisik-biologis semata, akan tetapi kehadirannya merupakan representasi dari ekspetasi masyarakat Jawa di Mangkunegaran. Representasi itu tidak hanya tampak pada sistem konstruksi dan konfigurasi ruang, tetapi juga ornamentasi yang diterapkan.

Ornamen sebagai seni merupakan representasi gagasan dan perilaku; melalui ornamen ekspetasi hidup dan kehidupan divisualkan. Ornamen atau ragam hias merupakan bahasa yang mengkomunikasikan pemikiran, cita-cita dan harapan hidup, dan simbol-simbol maknawi. Representasi semacam itu menjadikan ornamen sebagai bagian yang integral dari arsitektur atau rumah tradisional Jawa. [6] Ornamen juga menjadi instrumen didaktik yang digunakan sebagai pengukur, penjelas nilai, norma, dan rambu-rambu perilaku dalam masyarakat. Ajaran dan pesan moral dikemas dalam menjadi pesan tersembunyi dari perwujudan ornamen. Ornamen juga menjadi tengara sosial, yang mengikat kelompok, kelas, dan anggota masyarakat dalam konvensi bersama. Strata sosial juga dapat dideteksi melalui pemanfaatan berbagai tampilan visual karakteristik ornamen. [7]

Kata kumuda berarti bunga-bunga teratai putih, sedangkan wati memiliki arti jagad; rahsa,[8] juga cahaya atau sinar. Menurut arti kata Kumudawati tersebut, telah nampak sebuah makna tersirat yang ingin disampaikan. Terlebih, motif hias yang menyusun ornamen Kumudawati ini. Di dalam agama Hindu, bunga teratai merupakan lambang kesucian, dan dianggap sebagai tempat lahir dewa. Ada pula yang mengatakan bahwa kelopak kumuda yang berjumlah delapan, menandakan delapan dewa penguasa penjuru mata angin. Warna putih teratai juga muncul sebagai background warna ornamen Kumudawati. Sedangkan wati yang berarti jagad; rahsa[9], juga cahaya atau sinar. Mengungkapkan bahwa Kumudawati memiliki makna sebagai dunia para dewa, atau cara pendekatan diri melalui rahsa kepada Tuhan, ataupun cahaya ketuhanan yang menyingkap ajaran ketuhanan dalam sebuah ornamen. Melalui ajaran yang terdapat dalam ornamen Kumudawati, manusia Jawa diajarkan bagaimana cara mendekatkan diri kepada Tuhan dalam menjalani hidup di dunia, agar manusia selalu mendapatkan cahaya ilahi (hidayah) sehingga selalu dalam keadaan yang ”suci”.

Pembuatan ornamen kumudawati terinspirasi dari gambar kemudawati wayang beber Pacitan yang berasal dari klika wiwitan (kertas gedhong atau kertas Ponorogo) yang sering digunakan untuk keperluan kolonial di Paris. Inspirasi itu muncul pada tahun 1910. Namun, ide membuat motif tersebut di Pendhapa Ageng baru terwujud pada tahun 1937 atas inisiatif Mangkunegara VII. Setelah melihat gambar kemudawati tersebut, KGPAA Mangkunegara VII menugaskan kepada abdi dalem kraton Surakarta bernama Widasupama, yang setelah menjadi lurah kraton bernama Raden Ngabei Atmasupama. untuk melakukan tedhak sungging[10] wayang beber Pacitan yang kemudian disimpan di musium Sana Pusaka. Kemudawati yang terlukis pada sungging klika wiwitan ukuran 25 x 30 cm tersebut, diperkirakan peninggalan zaman Mataram.[11] Lukisan kumudawati yang semula dibuat di atas daluwang Jawa itu kemudian dibuat duplikatnya (ditedhak) di atas kain putih. Gambar ini kemudian diperbesar lagi dan dilukiskan pada langit-langit pendhapa. Proses teknisnya dilakukan oleh Liem Tho Hien, sedangkan yang melukiskan (ingkang nedhak sungging) tetap Raden Ngabei Atmasupama Kumudawati pada singup atau uleng pendapa joglo, di bagian tengah terdiri delapan bidang persegi; empat bidang persegi dipisahkan oleh sebuah balok kayu melintang (dhadha peksi).[12]

Menurut Arsip Reksa Pustaka (no. Kode MN.404), kumudawati (yang ditulis kemudawati) artinya tempat duduk pengantin, mempunyai motif batu karang yang ada di dasar laut. Kumudawati juga mempunyai corak modhang atau cemukiran, motif hias pada kain batik Jawa atau motif hias yang biasanya terdapat pada kain ikat kepala pelengkap busana tradisional pria. Hiasan kumudawati dibuat semasa Mangkunegara VII, yaitu pada tahun 1937, mempunyai makna simbolik dan bertujuan memberi kiasan (pasemon) bagi manusia.

…Gambar pasemon wonten ing pyanipun gajah Pandapi Ageng Mangkunegaran punika aslinipun nedhak gambar-gambar Kemudawati kagungandalem Sampeyandalem Kanjeng Gusti Pangeran Adipati.

Kemudawati punika palenggahan penganten, cakrikipun memba sela karang salebetipun saganten, ugi memper cakrik modang.

Ingkang mapan wonten ing singup (godagan tengah) punika gambaripun mestika wewolu, ingkang limrahipun kawastanan HASTAGINA…[13]

Terjemahannya:

…Gambar kiasan di langit-langit (uleng tengah joglo) Pendapa Ageng Mangkunegaran aslinya meniru gambar-gambar Kemudawati milik baginda Kanjeng Gusti Pangeran Adipati.

Kemudawati tersebut adalah tempat duduk pengantin yang bentuknya seperti batu karang, tempatnya di dasar laut, juga mirip (kain ikat kepala) motif modhang.

Yang ada di singup (bidang tengah) adalah gambar delapan mustika (simbol kata mutiara) yang lazim disebut HASTAGINA…

Hastagina merupakan konsep Jawa yang berisi delapan sifat positif yang harus dimiliki orang-orang Mangkunegaran sebagaimana pernah diajarkan oleh tokoh pendahulunya, yaitu Mangkunegara IV. Sifat hastagina termuat dalam karya sastra Mangkunegara IV yang berjudul Serat Darmawasita. Dalam bait Darmawasita itu dilukiskan rangkaian ajaran sebagai berikut.

Kaping pisan panggautan gelaring pambudi, Warna-warna sakaconggahira, nut ing jaman kalakone. Rigen ping kalihipun, dadi pamrih marang pakolih, Katri gemi garapnya, margane mrih cukup, ping pat nastiti pamriksa Iku dadi margane weruh ing pasti, lima wruh ing petungan.Watek adoh mring butuh sahari, Kaping nenem taberi tatanya, ngundhakaken marang kawruhe, ping pitu nyegah kayun, pepenginan kang tanpa kardi, tan boros marang arta, sugih watakipun, ping wolu nemen ing seja, watekira sarwa glis ingkang kinapti, Yen bisa kang mangkana.[14]

Terjemahan bebasnya:

Yang pertama lapangan usaha terbuka lebar, bentuknya beraneka ragam, carilah sekuatmu sesuai dengan keadaan atau kondisi zaman. Kedua adalah pandai mencari akal, agar memperoleh hasil yang diharapkan. Yang ketiga adalah hemat, agar dapat hidup berkecukupan, nomor empat hendaknya berhati-hati dalam memeriksa dan meneliti, sehingga mengetahui dengan pasti. Kelima tahu perhitungan. Dengan menjauhi hal-hal yang sesaat saja, hal yang keenam adalah rajin bertanya untuk menambah pengetahuannya. Ketujuh, adalah menahan nafsu dan keinginan yang tidak berfaedah dan tidak boros dalam mengeluarkan uang. Kedelapan, bertekad bulat dalam mencapai cita-cita, untuk mencapai dengan cepat apa yang diinginkan, kalau dapat lakukanlah.

Itulah sifat positif yang harus menjadi tradisi warga Mangkunegaran dalam menghadapi hidup menurut ajaran Mangkunegara IV, yang ternyata penuh persaingan dan tidak sesederhana yang dilihatnya. Ajaran hastagina ini tergambarkan dalam delapan warna yang berada di bagian tengah ornamen Kumudawati. Delapan warna merupakan kesatuan laku manusia sejati. Hasthawarna pada hakikatnya merupakan pencerminan delapan sifat yang terdapat dalam alam semesta, yang dapat ditanggapi oleh panca indera dan tersimpan sebagai pancamara dalam hati sanubari manusia.[15] Adapun tata letak simbol gambar dan warna simbolis pada ornamen Kumudawati dapat disimak pada denah berikut.

Gambar denah tata letak simbol gambar

dan warna simbolis ornamen Kumudawati

(Dibuat oleh: Wisnu Adisukma)

Pada Kumudawati terdapat gambar-gambar yang sarat akan nilai-nilai simbolis dan dipercaya memiliki kekuatan magis, gambar-gambar tersebut adalah lidah api, atribut dewa penguasa mata angin, watak hari, watak tahun, dan warna simbolis.

1. Lidah Api

Motif lidah api yang sedang menyala (vlammen) digambarkan berkelok-kelok dengan warna dominan merah, kuning, coklat tua pada latar berwarna putih dadu. Motif Cemukiran yang berbentuk seperti lidah api atau sinar merupakan unsur kehidupan yang melambangkan keberanian, kesaktian, ambisi, kehebatan, dan keagungan yang diibaratkan seperti Dewa Siwa yang dalam masyarakat Jawa dipercaya menjelma dalam diri seorang raja sehingga hanya berhak dipakai oleh raja dan putra mahkota.[16]

2. Atribut Dewa Mata Angin

Berdasarkan penamaan Kumudawati, terdapat penggalan kata kumudha, yang berarti teratai. Dalam agama Hindu, bunga teratai memiliki keistimewaan, antara lain daun bunga teratai hampir selalu terdiri delapan lembar, tepat sekali jika digunakan oleh Mangkunegara VII sebagai simbolisasi Astaiswarya (delapan dewa yang menguasai delapan penjuru mata angin). Ornamen ini letaknya mengelilingi delapan warna, yang digambarkan dengan senjata para dewa dari dongeng Jawa Kuna. Dalam ornamen tersebut terdapat arti simbolis watak masing-masing dewa. Adapun atribut para dewa yang digambarkan adalah a) cakra, b) trisula, c) braja, d) padhupan, e) danda, f)  muksala, g) nagapaksa, dan h) hangkus.[17]

  1. a. Cakra

Simbol cakra diwujudkan dengan gambar anak panah yang pada bagian ujungnya merupakan roda bergerigi. Pada sekeliling simbol cakra, terdapat motif lidah api yang mengitari simbol cakra. Cakra yang terletak di arah mata angin utara, merupakan lambang senjata milik Dewa Wisnu. Yang merepresentasikan watak welas asih terhadap manusia di dunia. Sifat welas asih atau penyayang ini mengajarkan kepada semua manusia untuk selalu bersikap saling menyayangi sesama.[18]

  1. b. Trisula

Trisula pada ornamen Kumudawati, digambarkan dengan bentuk senjata ysng memiliki tiga pisau pada bagian ujungnya. Sedang pada tangkai, terdapat semacam tasbih yang melilitnya. Trisula terletak di arah mata angin timur laut, merupakan simbol Sang Hyang Lodra yang memiliki sifat senang berpesta. Dalam agama Hindu yang dimaksud Lodra adalah Rudra, yaitu salah satu aspek dewa Siwa dalam bentuk krodha.[19]

  1. c. Braja

Braja terletak di arah mata angin sebelah timur, yang merupakan simbol atribut Dewi Uma yang mempunyai sifat sedih atau susah. Hal yang diajarkan adalah dengan adanya kesusahan seseorang dituntut selalu sabar, tabah, dan tawakal pada Allah, karena segala sesuatu telah ditentukan Allah. Kesusahan merupakan salah satu ujian dari Allah, dan tidak sembarang orang yang bisa tabah dalam menjalani ujian tersebut. Braja digambarkan seperti penggada yang memiliki dua ujung dengan genggaman di tengahnya. Dalam agama Hindu braja maksudnya wajra artinya petir, merupakan simbol Dewa Indra suami Dewi Uma, penguasa arah mata angin timur.

  1. d. Padupan

Padupan terletak di arah tenggara, simbol atribut Sang Hyang Agni yang disini mempunyai sifat panas membara. Artinya selalu punya semangat yang tinggi dalam mengerjakan sesuatu dan menjalankan tugasnya. Padupan digambarkan sebagai tempat pedupaan dengan api yang sedang menyala, namun cenderung lebih mirip obor. Dalam agama Hindu, simbol ini merupakan gambaran agni yang digunakan sebagai senjata dalam peperangan. Agni juga digunakan dalam upacara korban, senjata bentuk ini juga terdapat pada salah satu tangan Dewa Siwa.[20]

  1. e. Danda

Danda terletak di bagian selatan. Simbol atribut Sang Hyang Yama ini menyimbolkan sifat pemaaf, sehingga mengajarkan pada seluruh umat manusia untuk selalu memaafkan orang lain. Dalam mitologi Hindu, danda merupakan atribut milik dewa Siwa yang tengah memberikan pengajaran atau pertanda kematian.[21] Simbol danda pada Kumudawati digambarkan menyerupai alat pemukul yang mirip gada kecil.

  1. f. Muksala

Muksala terletak tepat di sudut arah barat daya yang digambarkan seperti penggada yang pada kedua ujungnya memiliki tiga ujung yang runcing dibelit naga. Dalam mitologi agama Hindu, muksala disebut musla yaitu antan kayu yang merupakan simbol pertanian.[22] Muksala merupakan simbol atribut Sang Hyang Guru yang bersifat menguji hati nurani, watak lemah lembut, dan baik hati. Dari sifat simbol muksala, manusia diajarkan supaya selalu berbaik hati kepada siapapun juga.

  1. g. Nagapasa

Nagapasa merupakan simbol atribut Sang Hyang Kala, mempunyai sifat angkara, jahat, pemarah dan segala perbuatan yang tidak baik. Manusia dilarang meniru hal-hal yang tidak baik, karena hal-hal yang tidak baik itu akan berdampak tidak baik juga baginya. Dalam mitologi Hindu, nagapasa adalah naga jerat yaitu jerat berbentuk ular, merupakan atribut Canda, Ketu, Siwa, Waruna, dan Sumbha.[23] Nagapasa terletak di sebelah barat, digambarkan dengan sebuah anak panah yang dililit loleh seekor ular naga.

  1. h. Hangkus

Hangkus terletak pada sudut arah barat laut. Hangkus pada Kumudawati digambarkan dengan senjata yang memiliki ujung menyerupai anak panah dengan tali menyerupai tasbih pada bagian ekornya. Dalam mitologi Hindu, hangkus disebut angkusa, alat penggerak gajah yang dibuat dari sebatang kayu yang pada ujungnya diberi pengait yang terbuat dari logam.[24] Hangkus merupakan simbol atribut Sang Hyang Indra yang memiliki sifat cermat, teliti, angkuh. Dengan adanya sifat ini manusia diajarkan untuk tertib dalam menjalankan segala sesuatu, supaya memperhatikan sebab-akibat, serta dampak dari setiap perbuatan yang dilakukannya.

3. Simbol Watak Hari

Kumudawati, selain menggambarkan atribut dewa penguasa arah mata angin, juga menyiratkan simbol yang berkait dengan dewa atau dewi penguasa hari dalam sistem kalender Jawa. Sistem perhitungan hari yang bersiklus lima (pancawara atau dina lima) itu umum disebut pasaran. Siklus perhitungan hari yang berjumlah lima yaitu Legi, Paing, Pon, Wage, dan Kliwon itu dalam sistem kepercayaan Jawa dikuasai dewa dewi yang masing masing digambarkan dengan simbol[25] a) wanita, b) leo, c) jemparing, d) jambangan, dan e) traju.

  1. a. Wanita

Wanita digambarkan dalam posisi duduk bersimpuh, berambut panjang, bertelanjang dada, mengenakan kalung dan kelat bahu. Tangan kanan ke belakang, sedang tangan kiri memegang bunga matahari yang sedang mekar. Gambar simbolik ini berada di bagian barat, terletak di antara dua lambang atribut dewa yaitu Muksala dan Nagapasa. Gambar wanita menyimbolkan hari pasaran Legi, adapun dewi penguasanya adalah Dewi Sri. Makna yang tersirat dari simbol ini adalah agar seseorang sebagai manusia yang bermasyarakat diseyogyakan untuk selalu ringan tangan terhadap sesama manusia yang sedang memerlukan pertolongannya. Motif oranamen yang menggambarkan wanita ini dalam zodiak Barat disebut Virgo.

  1. b. Leo

Leo digambarkan berkepala lonjong dengan jurai-jurai rambut di kepala berwarna kuning. Ekornya yang panjang tampil dengan warna yang serupa dengan warna badan yaitu merah. Kaki kiri depan diangkat sedikit ke depan. Simbol leo ini digambarkan dengan posisi di bagian barat daya, tepatnya terletak di antara simbol penguasa arah mata angin yaitu simbol muksala dan yuyu. Leo menyimbolkan hari pasaran Paing, dengan dewa Kala sebagai penguasanya. Kala memiliki sifat selalu ingin memiliki; menyukai semua yang dilihatnya. Hal yang ingin diungkap melalui simbol ini adalah jangan menjadi orang yang ingin memiliki barang yang bukan kepunyaannya dan bukan haknya, karena sifat ingin memiliki hak orang lain itu tidak baik bila diterapkan dalam kehidupan.\

  1. c. Jemparing

Jemparing digambarkan dengan busur beserta anak panahnya yang siap dilepaskan. Jemparing merupakan simbol pasaran Pon yang dikuasai Sang Hyang Brahma dengan sifat suka memperlihatkan kekayaan, kegagahan dirinya kepada orang lain, dan memikirkan hal bersifat keduniawian saja. Sifat-sifat tersebut sangat tidak baik karena manusia dianjurkan untuk tidak memikirkan hal yang bersifat keduniaan saja tetapi juga harus memikirkan kehidupan akhirat kelak. Penggambaran simbol ini diletakkan di sisi utara, yaitu antara simbol cakra dan ketonggeng. Dalam mitologi Hindu, jemparing disebut dengan dhanus sebagai busurnya dan bana anak panahnya. Selain juga merupakan simbol rasi bintang Sagitarius

  1. d. Jambangan

Jambangan digambarkan sebagai sebuah bejana yang mempunyai tutup. Di bidang tubuhnya dihias dengan motif garis-garis vertikal geometris. Bentuk ini mirip rasi bintang Aquarius. Jambangan merupakan simbol pasaran Wage dengan dewa penguasanya adalah Dewa Wisnu yang sifatnya tegas dan tepat dalam berbicara, namun mempunyai hati yang keras, tidak mudah terpengaruh, dan tidak mau diperintah orang lain.[26] Sebagai seorang manusia, kita diajarkan untuk memiliki prinsip dalam menjalani hidup, namun hendaknya juga mempertimbangkan pendapat orang lain. Berada di sebelah utara antara simbol trisula dan urang.

  1. e. Traju

Traju digambarkan sebagai timbangan atau neraca. Simbol ini berada di sebelah barat antara dua simbol atribut dewa, yaitu nagapasa dan hangkus. Traju dimaksudkan sebagai simbol pasaran Kliwon dengan dewa penguasanya adalah Sang Hyang Guru yang memiliki sifat pandai bicara, pandai menguntai kata-kata indah sehingga menarik perhatian.[27] Dalam kehidupan bermasyarakat hal tersebut perlu dicontoh, karena sifat supel akan banyak mendatangkan teman dan tentu saja akan sangat disukai oleh orang lain. Simbol traju ini terletak di sebelah barat antara lambang hangkus dan nagapasa. Simbol ini mirip dengan lambang zodiak Libra.

4. Simbol Watak Tahun

Siklus hari yang berjumlah tujuh juga digambarkan pada singup ini, terutama untuk menandai hari pertama bulan Sura pada awal tahun baru menurut perhitungan Jawa. Setiap tahun Jawa yaitu bulan Sura, harus diperhatikan pada hari apa tanggal 1 Sura tersebut apakah jatuh pada hari Akhad (Dite), Senin (Soma), Selasa (Anggara), Rebo (Buda), Kamis (Respati), Jumuwah (Sukra), atau Setu (Tumpak). Masing-masing simbol memiliki watak tahun yang disimbolkan dengan a) ketonggeng, b) ulam, c) yuyu, d) bantheng, e) mimi-mintuna, f) urang, dan g) mahendra.

  1. a. Ketonggeng

Ketonggeng atau Kalajenging terletak di sisi utara di antara simbol hangkus dan jemparing. Lambang ini menyimbolkan awal tahun baru Jawa jatuh pada hari Akhad atau Dite. Awal tahun yang jatuh pada hari Dite dan yang simbolnya tenab atau ketonggeng dinamakan Dite tenaba. Sifat tahun ini berpengaruh pada musim yang panas; dengan demikian frekuensi hujan berkurang. Dite adalah nama lain dari Aditya, sebutan matahari, yang mempunyai sifat panas dan memancarkan sinar.[28] Ketonggeng atau kalajengking ini dalam sistem zodiak Barat disebut Scorpio.

  1. b. Ulam

Ulam, wecit, atau ikan terletak di sisi sebelah timur, Simbol ini berada di antara simbol trisula dan bajra. Gambar ini merupakan simbol awal tahun baru yang jatuh pada hari Senin atau Soma. Awal tahun baru pada hari Soma yang diberi simbol wecit dinamakan Soma wecita. Sifat tahun yang mempunyai lambang demikian biasanya menandakan panjangnya musim hujan di sepanjang tahun; ibaratnya setiap hari terus-menerus turun hujan.[29] Horoscope Barat mengenal ulam atau ikan ini sebagai simbol zodiac pisces.

  1. c. Yuyu

Yuyu atau ketam terletak di sebelah selatan anata simbol danda dan leo. Yuyu atau rekhata adalah simbol awal tahun baru Jawa yang jatuh pada hari Selasa atau Anggara. Awal tahun yang jatuh pada hari anggara dengan lambang rekatha disebut Anggara-rekatha. Sifat tahun yang demikian biasanya hujan terus menerus tiap hari.[30] Anggara adalah sebutan lain untuk planet Mars. Dalam sistem horoskop Barat, ketam atau kepiting digunakan sebagai simbol cancer.

  1. d. Banteng

Banteng terletak di sebelah selatan, antara padupan dan mimi-mintuna. Banteng atau mahisa merupakan lambang awal tahun yang jatuh pada hari Rebo, Buddha atau Buda. Awal tahun yang jatuh pada hari Buda dengan simbol mahisa disebut Buda-mahisa yang menunjukkan watak dan sifat tahun yang banyak hujan.[31] Buda adalah sebutan lain untuk planet Merkurius. Dalam system horoskop Barat, ketam atau bantheng digunakan sebagai simbol zodiak Taurus.

  1. e. Mimi-Mintuna

Simbol mimi-mintuna merupakan jenis hewan air yang badian atasnya dilindungi sejenis kulit agak tipis tapi keras. Ciri lain binatang ini adalah ekornya yang lancip; dan saling menempel atau selalu bergendongan saat bertelur. Simbol visual ini berada di sisi selatan, terletak di antara simbol danda dan banteng. Mimi-mintuna merupakan simbol awal tahun yang jatuh pada hari Kemis atau respati. Karena itu, awal tahun Kemis mintuna biasanya disebut dengan respati-mintuna. Awal tahun yang ditandai dengan simbol respati-mintuna merupakan tahun yang banyak curah hujan yang disertai dengan angin.[32] Respati atau Wrhaspati adalah lambang planet Yupiter. Dalam system horoskop Barat, mimi-mintuna ini sejajar dengan simbol anak kembar yang digunakan sebagai simbol zodiak Gemini,

  1. f. Urang

Gambar urang atau udang ini terpajang di sebelah utara, posisinya ada di antara simbol cakra dan jambangan. Urang atau mangkara merupakan simbol awal tahun yang jatuh pada hari Jemuwah atau Sukra. Itulah sebabnya tahun ini lebih dikenal sebagai taun Sukra-mangkara. Sifat tahun ini adalah hujan yang tidak merata, antara satu tempat dengan tempat lainnya tidak sama. Sukra adalah sebutan untuk planet Venus.[33]

  1. g. Mahendra

Mahendra atau kambing jantan berada di sisi sebelah timur. Letaknya antara simbol braja dan pedupaan. Mahendra merupakan lambang awal tahun Jawa yang jatuh pada hari Setu atau Tumpak. Karena itu, tahun itu sering disebut dengan taun Tumpak-mahendra. Sifat tahun tumpak mahendra adalah terang, tidak ada hujan.[34] Dalam sistem horoskop Barat, mahendra digunakan sebagai simbol zodiak Aries.

5. Warna-warna Simbolis

Bagian tengah-tengah singup terdapat warna-warna yang berbeda, keseluruhannya terdiri dari delapan warna. Warna-wana ini diyakini sebagai warna-warna yang mempunyai kekuatan magis dan gaib. Kedelapan macam warna yang dibingkai dengan motif karang tersebut, merupakan gambar delapan warna ’mutiara’ (manik) kegaiban yang lazim disebut dengan Hastagina (delapan kegunaan). Masing-masing warna diawali atau diakhiri dengan istilah manik, yang artinya mutiara atau zamrud. Delapan warna tersebut seperti yang tertera dalam Ringkasan Pratelanipun Pasemon (saloka) Sawatawis ingkang Wujud Gambar Wonten ing Pyanipun Gajah ing Pandhapi Ageng Mangkunegaran diungkapkan sebagai mestika wewelu hastagina seperti tertulis “Ingkang mapan wonten ing Singkun (godangan tengah) punika gambaripun mestika wewelu, ingkang limprahipun kawastanan Hastagina.” [35]

Ajaran hastagina mempunyai dasar yang mirip dengan simbolisme kosmologi Jawa ”keblat papat kalima pancer”, terlebih pada simbolisme warna yang termasuk pada warna-warna primer. Keblat papat kalima pancer dalam ajaran Jawa merupakan wujud alam kosmis. Papat yang dimaksud adalah kawah, getih (darah), puser, dan adhi ari-ari. Kawah berada di Timur (wetan, witan), yang berwarna putih. Ini yang mengawali kelahiran, sedang wetan atau witan berarti wiwitan yaitu permulaan segala sesuatu. Dalam istilah Jawa disebut dengan purwo. Getih berwarna merah di sebelah Selatan atau daksimo yang dimaknai dengan laku kehidupan. Puser terletak di sebelah Barat atau pracimo berwarna hitam yang menandai akhir kehidupan. Adhi ari-ari berwarna kuning dan berada di sebelah Utara atau untara, yang diartikan kehidupan setelah kematian. Adapun pancer yang terletak di bagian tengah disebut mar dan marti.[36] Warna-warna simbolik itu adalah cemeng, abrit, jene, pethak, biru, ijem, wungu, dan dhadhu yang masing dimaknai sebagai berikut.

  1. Cemeng

Warna cemeng atau hitam dinamakan cundhamani, dlam cerita pewayangan cundhamani adalah senjata andalan Aswatama. Simbolisasi warna hitam dalam agama Islam Jawa disebut dengan istilah Aluwamah. Aluwamah merupakan gambaran nafsu manusia akan ketamakan, keserakahan, kesombongan dan berorientasi pada syahwat. Nafsu ini terletak pada aliran darah manusia.[37] Hal ini harus dapat dikendalikan manusia agar menjadi manusia yang mulia.

  1. b. Abrit

Warna abrit atau merah, dinamakan manik-marakat (zamrud berwarna merah). Warna merah merupakan simbolisasi dari nafsu amarah. Watak yang muncul adalah egois dan selalu menganggap diri paling segalanya. Nafsu ini juga harus ditundukkan agar kita mendapatkan kenyamanan dalam hidup, sebab tidak ada yang memusuhi karena sifat yang dimiliki. Nafsu ini terletak di dalam jaringan urat.[38]

  1. c. Jene

Warna jene (kuning) dinamakan manikara. Nafsu sufiyah seringkali disimbolkan dengan warna kuning, sebagai sebuah nafsu baik yang bertujuan menghancurkan kejahatan dan angkara murka. Terletak di dalam tulang sumsum. Nafsu ini sebagai lawan dari nafsu aluwamah dan amarah.[39]

  1. d. Pethak

Warna pethak atau putih disebut manikmaya. arna putih merupakan gambaran dari nafsu mutmainah merupakan sifat rabbaniyah dalam diri manusia. Nafsu ini membawa ketentraman dalam hidup jika nafsu mutmainah mendominasi diri manusia. Nafsu ini berada pada helaan nafas.[40]

  1. e. Ijem

Ijem atau hijau dinamakan manik-marcakundha. Warna ini mempunyai khasiat untuk menolak nafsu angkara murka, di samping menjauhkan seseorang dari rasa ingin memiliki sesuatu barang yang bukan miliknya dan bukan haknya.[41]

  1. f. Biru

Warna biru disebut manik-endrataya Bagi orang Jawa, warna biru merupakan warna yang dianggap mampu menghilangkan segala macam penyakit. Selain diyakini dapat digunakan sebagai jimat atau kekuatan bagi keturunannya supaya terhindar dari segala macam penyakit.[42]

  1. g. Dadu

Yang dimaksud warna dadu adalah oranye. Warna yang disebut juga sebagai manik-hardhataya ini mempunyai khasiat menolak rasa ragu, rasa khawatir, hati menjadi mantap. Warna ini membuat seseorang berani melakukan segala sesuatu, seseorang menjadi semangat dan dapat menahan dari perbuatan tidak baik yang ditujukan pada seseorang.[43]

  1. h. Wungu

Wungu atau warna ungu biasa disebut manik-arja mangundring. Warna ini menjauhkan seseorang dari rasa duka, menyejukkan hati, menghilangkan rasa kecewa karena telah ditinggalkan seseorang kerabat dekat. Selain itu, warna ini juga berfungsi sebagai ungkapan dari sesorang yang ingin memberikan kepercayaan dan kehormatan kepadanya: disenangi dalam pergaulan, disegani dan dapat menjadi pribadi yang menyenangkan bagi orang lain.[44]

Butir-butir mutiara bermakna dari delapan warna gaib yang mengandung ajaran luhur Jawa, yaitu konsep hastagina tersebut, dapatlah dicermati adanya upaya (laku) mencapai keselamatan, ketentraman hidup bagi manusia.[45] Pada kumudawati inilah ajaran Jawa (hastagina) kembali dimunculkan dan diajarkan di dunia modern, yang diwujudkan melalui simbol-simbol pada singup Pendhapa Ageng Mangkunegaran. Ajaran hastagina ternyata merupakan ajaran yang menjadi pijakan laku Jawa yang dinamis dalam menjalani hidup.

Aspek visual yang muncul dalam ornamen kumudawati mengungkap mitologi yang berbasis pada sistem religi Jawa yang tercermin melalui motif-motif di dalamnya. Melalui ornamen kumudawati, Mangkunegara VII mencoba mengungkapkan bahwa ornamen kumudawati merupakan poros kosmis, pusat dunia, titik asal muasal, akar segala akar, sangkan paran, atau axis mundi. Ungkapan tersebut nampak dari penyelarasan yang harmonis antara alam mikrokosmos dengan alam makrokosmos. Dalam simbolisme ornamen kumudawati terdapat penerapan konsep budaya lama yang menembus zaman, yakni loro-loroning atunggal dalam budaya Jawa atau rwa binedha dalam khasanah budaya Bali. Konsep lama inilah yang oleh Jakob Sumardjo disebut sebagai completio opositorum.

D. Kesimpulan

Ornamen kumudawati adalah hasil gagasan kreatif Mangkunegara VII, yang mencerminkan terjadinya gejala perubahan saat pola pikir transmisif-historis budaya Jawa berpadu dengan pola pikir Eropa dalam diri Mangkunegara VII dan tembok budaya Mangkunegaran. “Berani berubah” merupakan sikap yang mengantarkan Mangkunegara VII sebagai pemikir inovatif Jawa pada zamannya berikut dukungan masyarakat kreatif Mangkunegaran. Ia berhasil memadu budaya Jawa dengan budaya Eropa dalam karya barunya, seperti dapat dijumpai pada ornamen unik kumudawati pada singup pendhapa ageng yang menjadi salah satu penciri budaya benda Mangkunegaran Kumudawati merupakan sebuah bentuk budaya (cultural form), yakni artifak yang berisikan wacana representasi diri yang dikerangkai budaya yang melahirkannya. Kumudawati dapat menjadi wahana pengusung tanda yang memberikan informasi tentang segala sesuatu yang ingin diungkap Mangkunegara VII. Tanda maknawi atau simbolik ini tercermin melalui bentuk, warna, sosok obyek, atau tata susun ornamen tersebut, serta makna yang disiratkannya.

Substansi simbolik yang tersirat dalam ornamen kumudawati adalah ajaran hastagina yang kembali dimunculkan dan ditransmisikan ke masa selanjutnya. Ajaran tersebut merupakan pijakan laku Jawa yang dinamis dalam menjalani hidup, yang mengajarkan manusia agar senantiasa ingat dan dekat kepada tuhan melalui segala hal yang dilakukan dalam menjalani hidup di dunia. Secara singkat dapat disampaikan bahwa pada kajian simbolisme ornamen kumudawati pada singup Pendhapa Ageng Mangkunegaran adalah penghadiran kembali ajaran Jawa yang dianggap adiluhung yang dipadu dengan unsur Barat guna melengkapi dan mengetengahkan keluhuran budaya Jawa. Inilah upaya  Mangkunegara VII dalam mendinamisasian nilai-nilai luhur budaya Jawa agar tetap lestari dalam kehidupan masyarakat Jawa.

DAFTAR PUSTAKA

(Anonim), Ringkasan Pratelanipun Pasemon (Saloka) Sawatawis ingkang Wujud Gambar Winten ing Pyanipun Gajah ing Pandhapi Ageng Mangkunegaran, (Surakarta: (t.p) (t.th).

Albadiyah, S. Ilmi. Ragam Hias Pendhapa Istana Mangkunegaran, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional. Yogyakarta, 1999.

C.F. Winter Sr. Dan R.Ng. Ranggawarsita, Kamus Kawi-Jawa (Kawi-Javaansch Woordenboek), (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1996), hlm. 297

Damais, Louis Charles. Epigrafi dan Sejarah Nusantara, Jakarta: Ecole Francaise d’Extreme Orient, 1995.

Dharsono. Budaya Nusantara; Kajian Konsep Mandala dan Konsep Tri-loka terhadap Pohon Hayat pada Batik Klasik, Bandung: Rekayasa Sains, 2007.

I Made Titib, Teologi dan Simbol-simbol dalam Agama Hindu, Surabaya: Penerbit Paramita, 2003

Jakob Sumardjo. Estetika Paradoks. Bandung: Sunan Ambu Press. 2006.

Larson, George G. terj A.B. Lapian, Masa Menjelang Revolusi Keraton dan Kehidupan Politik di Surakarta 1912-1942. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1990.

Metz, Th. M. Mangkoe-nagaran, Analyze van een Javaansch Vorstendom terjemahan R. Tmg. M. Husodo Pringgokusumo, Koleksi Reksapustaka Mangkunegaran, 1986.

Mike Susanto. Membongkar Seni Rupa. Yogyakarta: Jendela. 2003.

Moedjanto, G. Konsep Kekuasaan Jawa; Penerapannya oleh Raja-raja  Mataram, Yogyakarta: Kanisus, 1994.

Mulder, Niels. Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional. Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1986.

Pigeaud, Th. G. Serat Babad ing Mangkunegaran, Batavia: Directoraat van Onderwijs en Erendients, 1937.

R. Tanojo, Pawukon, miturut kina asli saking Surakarta ingkang kadapuk nalika kawitanipun abad Masehi ingkang kaping 20, Solo : Sadu Budi, 1955

Ringkasan Pratelanipun Pasemon (Saloka) Sawatawis ingkang Wujud Gambar Winten ing Pyanipun Gajah ing Pandhapi Ageng Mangkunegaran, Manuskrip Reksapustaka Mangkunegaran

S. Haryanto, Bayang-bayang Adiluhung, Filsafat, Simbolis, dan Mistik dalam Wayang, Semarang: Effhar&Dahara Prize, 1992

Sarwoko Mangoenkoesoema, R.M.Tg. ed., Het Tri Windoe Gedenkboek Mangkoe Negara VII. Surakarta: Uitgeven Vanwege het Comite voor het Triwindoe-Gedenkboek, 1939.

_________________. ed. Buku Kenangan Tri Windu Mangkunegara VII. Terj. Muh. Husodo Pringgodigdo. Surakarta: Panitia Kenangan Tri Windu, 1939.

Simuh, Sufisme Jawa, Yogyakarta : Bentang Budaya, 1999

Soedarsono, R.M.  Seni Pertunjukan dari Perspektif Politik, Sosial, dan Ekonomi, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2003.

Soenandar Hadikoesoemo. Pawukon, Yogyakarta: Proyek Javanologi, 1985

Sunarmi, Guntur, dan Tri Prasetyo Utomo. Arsitektur dan Interior Nusantara; Seri Jawa, Surakarta: ISI Press, 2007.

Sunarto. Mengenal Tatah Sungging Kulit, Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan; Proyek Peningkatan Pengembangan Institut Seni Indonesia, 1985.

Umar Kayam. Seni, Tradisi, dan Masyarakat. Jakarta: Penerbit Sinar Harapan, 1981.

Wahyu H.R. Sufisme Jawa, Yogyakarta: Pustaka Dian, 2006.

Wasino. “Kebijaksanaan Pembaharuan Pemerintahan Praja Mangkunegaran”, Tesis. Yogyakarta: UGM, 1994.

Woodward, Mark R., Islam Jawa; Kesalehan Normatif versus Kebatinan, Yogyakarta : LKiS, 2006

Narasumber

G.P.H. Herwasto Kusumo. Kepala Reksabudaya istana Mangkunegaran Surakarta, 29 Desember 2008

K.R.T. Kalingga Honggodipura. Kepala Museum Radya Pustaka dan Budayawan kota Sala, 22 Maret 2008

Jlitheng Suparman. Dalang, Budayawan, dan Konsultan primbon Jawa, 8 Agustus 2009


[1] Mike Susanto. Membongkar Seni Rupa. (Yogyakarta: Jendela, 2003), hlm. 230.

[2] George D. Larson, Masa Menjelang Revolusi Keraton dan Kehidupan Politik di Surakarta 1912-1942. Terj AB. Lapian, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1990), hlm. 107. Dapat dilihat pula S. Koperberg, ”Twintig Jaren Cultureele Arbeid”, dalam R.M. Tg Sarwoko Mangoenkoesoema, ed, Het Triwindoe-Gedenboek, (Surakarta: Kestalanweg, 201, 1939), hlm. 45-46, seperti naskah terj. R.T. Moh. Husada Pringgokususmo, ”Dua puluh Tahun Bekerja di Bidang Kebudayaan,” dalam R.M.Tg. Sarwoko Mangoenkoesoemo, ed, Buku Kenangan Triwindu Mangkunegara VII, (Surakarta: Panitia buku kenangan Triwindu, 1939) hlm 61-62.

[3] G. Moedjanto, Konsep Kekuasaan Jawa oleh Raja-Raja Mataram, (Yogyakarta: Kanisisus, 1994), hlm. 88

[4] R.M. Soedarsono, Seni Pertunjukan dari Perspektif Politik, Sosial, dan Ekonomi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2003), hlm 104

[5] Dharsono, Budaya Nusantara; Kajian Konsep Mandala dan Konsep Tri-loka terhadap Pohon Hayat pada Batik Klasik,  (Bandung: Rekayasa Sains, 2007), hlm. 38

[6] Sunarmi, Guntur, dan Tri Prasetyo Utomo, Arsitektur dan Interior Nusantara; seri Jawa, (Surakarta: ISI dan UNS Press, 2007), hlm. 140

[7] Ibid, hlm. 137

[8] C.F. Winter Sr. Dan R.Ng. Ranggawarsita, Kamus Kawi-Jawa (Kawi-Javaansch Woordenboek), (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1996), hlm. 297

[9] Rahsa dalam bahasa Jawa berarti alusing rasa. Bukan rasa dalam arti dapat ditangkap panca indera, tetapi lebih dalam dari itu. Rahsa merupakan rasa kehidupan yang didapatkan melalui perenungan dan peluruhan diri kepada Tuhan. Wahyu H.R., Sufisme Jawa, (Yogyakarta: Pustaka Dian, 2006) hlm. 31

[10] Teknik pewarnaan khusus dengan menggunakan sistem gradasi (tingkatan warna) dari warna muda ke warna tua. Sunarto, Mengenal Tatah Sungging Kulit, (Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan; Proyek Peningkatan Pengembangan Institut Seni Indonesia, 1985), hlm. 22

[11] Wasino, op.cit, hlm 40

[12] S. Ilmi Albiladiyah, 1997, hlm. 52; Wawancara dengan G.P.H. Herwasto Kusumo, 23 September 2008.

[13] Arsip Reksa Pustaka Mangkunegaran, No. MN 404; Lihat pula Ringkasan pratelan pasemon (saloka) sawatawis ingkang wujud gambar wonten ing Pyanipun Gajah ing Pandhapi Ageng Mangkunegaran, hlm 1

[14] Mangkunegara IV, ’Serat Darmawasita” pupuh Dandang Gula bait 4 dan 5; Dapat dilihat pada Th. Piegeaud, 1927, Jilid 3, hlm. 20

[15] Adhikara dalam Soetarno, Pakeliran Pujosumarto; Nartosabdo dan Pakeliran Dekade 1996-2001, (Surakarta: STSI Press, 2002), hlm 91

[16] K.R.T. Kalingga Hanggadipuro, wawancara

[17] (Anonim), Ringkasan Pratelanipun Pasemon (Saloka) Sawatawis ingkang Wujud Gambar Winten ing Pyanipun Gajah ing Pandhapi Ageng Mangkunegaran, (Surakarta: (t.p) (t.th), hlm. 2

[18] Wawancara dengan Jlitheng Suparman, 8 Agustus 2009

[19] Wawancara dengan G.P.H. Herwasto Kusumo, 29 September 2008

[20] I Made Titib, Teologi dan Simbol-simbol dalam Agama Hindu, (Surabaya: Penerbit Paramita, 2003), hlm. 382

[21] Jlitheng Suparman, wawancara

[22] Louis Charles Damais, op.cit. hlm 161

[23] Louis Charles Damais, op.cit. 161

[24] Ibid, hlm, 162

[25] Soenandar Hadikoesoemo, Pawukon, (Yogyakarta: Proyek Javanologi, 1985), hlm. 6

[26] Jliteng Suparman, wawancara

[27] G.P.H. Herwasto Kusumo, Wawancara

[28] R. Tanojo, Pawukon, miturut kina asli saking Surakarta ingkang kadapuk nalika kawitanipun abad Masehi ingkang kaping 20, (Solo : Sadu Budi, 1955), hlm. 54 ; G.P.H. Herwasto Kusumo, wawancara

[29] R. Tanojo, hlm. 56

[30] Ibid, hlm 56

[31] Ibid, hlm 57

[32] S. Haryanto, Bayang-bayang Adiluhung, Filsafat, Simbolis, dan Mistik dalam Wayang, (Semarang: Effhar&Dahara Prize, 1992), hlm. 48

[33] G.P.H. Herwasto Kusumo, Wawancara

[34] R. Tanojo, op.cit., hlm. 59 ; G.P.H. Herwasto Kusumo, wawancara

[35] (Anonim), op.cit., hlm. 3

[36] Suwardi Endraswara, Mistik Kejawen, (Yogyakarta: Penerbit Narasi, 2006), hlm. 54-55; Wawancara dengan K.R.T. Kalingga Hanggadipuro, 9 Juli 2009

[37] Mark R. Woodward, Islam Jawa; Kesalehan Normatif versus Kebatinan, (Yogyakarta : LKiS, 2006), hlm. 289 ; Simuh, Sufisme Jawa, (Yogyakarta : Bentang Budaya, 1999), hlm. 88

[38] Mark R. Woodward, op.cit., hlm. 289 ; Simuh, op.cit., hlm. 88

[39] Mark R. Woodward, op.cit., hlm. 289

[40] Mark R. Woodward, op.cit., hlm. 289 ; Simuh, op.cit., hlm. 88

[41] G.P.H. Herwasto Kusumo, Wawancara

[42] ibid

[43] ibid

[44] G.P.H. Herwasto Kusumo, Wawancara

[45] S. Ilmi Albiladiah, 1997, hl;m. 61-94; Wawancara dengan G.P.H. Herwasto Kusumo,  23 September 2008

Critics essay writing service of the president’s signature law, who have been relentless in trying to overturn it or slow it down, view the case of king v.